Selasa, 05 Mei 2009

Berawal Dari Nongkrong Jadi Recording Label


Record Label ini bisa dibilang label record Indie pertama di Bandung. Di tempat ini lah, Burgerkill merilis album perdananya di tahun 2000 dengan tajuk "Dua Sisi". Album ini sukses mencetak penjualan sebanyak 5 ribu copy.

Riotic records, tercatat sebagai tempat yang menelurkan banyak band-band beraliran punkrock, hardcore yang cukup ternama. Tak hanya Burgerkill, juga band lain seperti Authority atau Turtle Jr.

Padahal berawal dari nongkrong. Itulah cerita awal berdirinya Riotic yang dituturkan empunya Riotic Dadan. "Awalnya cuma nongkrong nggak jelas," ungkap pria dengan sapaan akrab Dadan Ketu ini.

Mereka adalah komunitas anak muda penggemar musik-musik bawah tanah yang datang dari berbagai penjuru Kota Bandung termasuk Cimahi.

Komunitas tersebut rata-rata meiliki band sendiri namun tidak memiliki tempat untuk menyalurkan keinginan bermusik mereka. Dari sanalah dibuat even-even yang sifatnya indie.

Sebelum menjadi nama Riotic, Event organizer dengan nama Hijau Entertainmen pun membuat even-even musik di Bandung. Dadan menuturkan antara tahun 96-97 hampir setiap minggu ada even musik di Lapangan Saparua.

Maka utuk mendokumentasikan karya musik band-band Indie tersebut dibentuklah recording label dengan nama Riotic Records.

Terobosan yang cukup fenomenal ketika Riotic merilis album kompilasi punk rock pertama di Indonesia dengan sederetan nama band-band ternama seperti Turtlr Jr. atau Keparat. Album ini pun berhasil dijual sebanyak 2 ribu copy.

Sampai saat ini Riotic sudah merilis album 18 band berlairan punk rock dan hardcore.

Namun diakui Dadan saat ini bisnis kaset lesu tapi di sisi lain Industri Clothing kian meraja. Aktivitas Riotic pun menurun. Jika dulu dalam setahun bisa merilis 1 sampai dua album, tapi selama dua tahun terakhir ini Riotic belum merilis lagi album.

Biaya recording yang lebih mahal serta perkembangan teknologi yang lebih memudahkan akses musik menjadi alasannya. "Band-band juga sekarang ada yang membagi sampling secara gratis atau kemudahan mendowload musik dari website mereka," jelasnya.

Pengelola Riotic pun mengerucut. Menurut Dadan, dari semula sembilan orang kini tinggal dirinya. Hal itu tak membuat semangat Dadan surut. Tetap tidak terlepas dari musik. Mengutip kata-kata Dadan 'Lihat situasi saja. Biar berjalan apa adanya'.

Riotic pun bergerak di distro yang khusus menyediakan merchandise musik. Melalui studio dan distronya ini, aktivitas Riotic masih terus berjalan di markas besarnya di Jalan Sumbawa. Seperti bagaimana awalnya Riotic berdiri. Tempat ini kini jadi tempat tongkrongan komunitas pecinta musik underground. Dari nongkrong kembali ke nongkrong

Tidak ada komentar: