Kamis, 30 April 2009

Rancid, The Reggae Influenced Punk Band



Rancid adalah sebuah band punk yang sangat kuat di influence kan oleh musik reggae. Mereka berdiri di tahun 1991 di kota Albany, California, Amerika Serikat. Rancid beranggotakan Tim Amstrong pada gitar dan vokal, Lars Frederiksen pada gitar dan vokal, Freeman pada bass dan vokal, dan drummer Branden Steineckert. Band ini didirikan oleh Tim Amstrong, Matt Freeman, dan drummer Brett Reed yang kemudian keluar di tahun 2006 dan digantikan oleh Branden Steineckert. Lars Frederiksen masuk kedalam band di tahun 1993 saat Rancid mencari gitaris kedua.

Rancid termasuk kedalam California Punk Band bersama The Offspring dan Greenday yang menghidupkan kembali ketertarikan masyarakat terhadap genre punk rock di AS pada awal 90an.

Band ini terkenal dengan hits singlenya berjudul Ruby Soho, Time Bomb, Salvation, dan Fall Back Down. Pada tahun 2007 mereka mengerjakan album dan diprediksi akan rilis di tahun 2008 oleh Hellcat Records.

Pada awalnya, Tim Amstrong dan Matt Freeman telah bermain di band ska-punk bernama Operation Ivy tahun 1987 sampai 1989. Saat Operation Ivy bubar, mereka sepakat untuk membentuk band baru yang dimulai dari sebuah hardcore punk bernama Generator. Mereka juga pernah membentuk band lain yang diinfluence kan oleh ska antara lain Downfall dan Dance Hall Crashers tetapi akhirnya bubar dengan sangat cepat. Pada tahun 1991 Tim Amstrong dan Matt Freeman merekrut drummer Brett Reed, yang kemudian membentuk sebuah band kita kenal dengan Rancid. Dan sepakat berkibar di bawah record label milik gitaris Bad Religion, Epitaph Record di tahun 1993.

Pada saat Rancid menulis album yang waktu itu sedang di follow up, Billie Joe Amstrong dari Greenday yang merupakan teman dari Rancid ikut ambil bagian dalam menulis lagu berjudul Radio. Hal ini membuatnya ikut dalam sebuah pentas live dengan Rancid. Tim Amstrong pernah menawarkan Billi Joe Amstrong untuk ikut menjadi anggota tetap Rancid tetapi dia lebih memilih untuk tetap di Greenday. Sebelumnya Tim Amstrong juga pernah mengajak Lars Frederiksen dari UK Subs untuk ikut bergabung dalam Rancid sebagai gitaris kedua tetapi dia juga menolaknya. Setelah Billie Joe Amstrong menolak untuk bergabung dengan Rancid, Lars Frederiksen akhirnya mengubah keputusannya dan akhirnya bergabung dengan Rancid sebagai gitaris kedua.

Lars Frederiksen bermain dengan Rancid pada album Let’s Go di tahun 1994. Pada tahun tersebut The Offspring sedang mengalami kesuksesan pada album mereka yaitu Smash yang kemudian mengajak Rancid untuk tour bersama dan menularkan kesuksesannya pada Rancid. Setelah kesuksesan Rancid pada Let’s Go, mereka diserbu banyak major label termasuk Maverick Records.

Mereka tetap sepakat untuk bekerja di bawah Epitaph Record, dan pada tahun berikutnya mereka telah selesai merilis album ketiga berjudul …And Out Come The Wolves. Dengan sangat cepat album baru ini telah menyaingi kesuksesan album sebelumnya yaitu Let’s Go. Tiga buah single dari album ini antara lain Roots Radicals, Time Bomb, dan Ruby Soho yang ikut ditulis oleh seorang teman bernama Taylor Ryan yang merupakan ex-drummer Stallion.

Setelah selama dua tahun tour untuk album …And Out Come The Wolves, Rancid kembali ke studio untuk merekam album keempat mereka Life Won’t Wait, yang kemudian rilis satu tahun sesudahnya. Album ini sedikit bercabang dari album sebelumnya dengan kombinasi punk rock dengan roots reggae, rockabilly, dub, hip hop, dan funk. Karena hal ini lah album ini banyak dibanding-bandingkan dengan milik The Clash berjudul Sandinistal.

Sebuah album self-titled (judul album sama dengan nama band) dirilis Rancid pada tahun 2000 pada record label milik Tim Amstrong, Hellcat Records yang merupakan divisi dari Epitaph Records. Namun album ini kurang mengalami kesuksesan ketimbang album-album sebelumnya.

Setelah gagal untuk tour di tahun 2001, Rancid kembali lagi ke studio bersama Gurewitz di tahun 2002 untuk merekam album keenam mereka berjudul Indestructible yang rilis pada tahun 19 agustus 1993 di bawah Hellcat Records . Lagu Fall Back Down termasuk di dalam album ini yang kemudian menduduki chart tertinggi dalam sejarah Rancid.

Rabu, 29 April 2009

Punk buat Cewek!

Tadinya diemohi. Sekarang digilai. Lebih edan. Lebih massal. Guys, it’s melodic punk!

Sabtu (26/3) malam lalu Tennis Indoor Senayan serasa mau pecah. Selama enggak kurang dari dua jam, tuh venue ledes digedor sama aksi Simple Plan yang atraktif. Sekitar 5.000 penonton kompak melonjak-lonjak mengikuti tingkah Pierre cs, yang memang hobi banget lelompatan di atas panggung.

Kalau diperhatikan, rata-rata penonton konser Simple Plan kemarin adalah cewek dari berbagai usia. Seperti diakui oleh Adri Soebono, promotor konser ini, mayoritas yang datang tuh seusia SMP. Dan kedatangannya pun diantar ortu masing-masing.

Hal ini jadi menarik lantaran apa yang dibuat sama Simple Plan sama sekali bukan barang baru. Enggak seperti Linkin Park yang nonjok dengan kemasan metal bersalut hip hop kental. Atau Muse, misalnya, yang sukses menggabungkan unsur rock dengan klasik, dan sedikit J-pop.

Kalau mau jujur, yang dikemas sama Pierre cs tuh enggak lebih dari pengulangan. Dari racikan yang pernah dibuat sama Green Day, sekitar 15 tahun lalu. Racikan yang isinya kord 3 jurus dari musik punk yang simpel, plus solmisasi musik pop yang melodius. Dan jelas-jelas punya "racun" yang kuat. Racikan yang akhirnya mengangkat Green Day sebagai salah satu ikon musik penting di tahun ’90-an. Racikan yang kemudian jadi cetak biru bagi sebuah sub-genre berjuluk melodic punk atau melodic core bagi sebagian orang.

Unsur pop ini enggak berhenti hanya di elemen solmisasi nada dan struktur lagu. Lebih dari itu, unsur itu juga tercermin dalam barisan lirik yang dibesut sama sebagian besar pengusung aliran ini.

Tarik mundur sedikit ke akhir ’70-an. Saat itu punk muncul sebagai antitesa dari art rock, prog-rock, serta glam rock. Maklum, ketiga aliran ini dianggap sangat elitis. Cuma bisa dimainkan dan didengar oleh mereka-mereka yang pernah mengecap sekolah. Musik, secara lebih khusus.

Nah, kaum yang kemudian disebut punk ini pengin membuktikan bahwa musik itu bisa dimainkan oleh siapa aja. Asal punya niat dan attitude, cukuplah. Maka, musik yang digeber itu enggak lebih dari 3 kord. Dimainkan dengan distorsi pol dan aksi panggung yang heboh.

Berhubung kebanyakan band ini berangkat dari kalangan menengah bawah, lirik-lirik lagunya pun sarat protes terhadap isu sosial. Isu tentang ketidakadilan, perbedaan kelas, sampai hal- hal berbau politis. Terang saja, saat itu aliran musik kayak gini diemohi banget. Jangankan oleh para ortu. Di tingkat negara pun pengusung musik ini dianggap "musuh". Antikemapanan, begitu sebutannya.

Tetapi, punk ini tumbuh subur. Peminatnya pun-punkers-makin banyak. Punk bukan lagi sebutan buat sebuah aliran musik, melainkan menjelma jadi sebuah subkultur. Band-band kayak The Ramones, The Clash, hingga The Sex Pistols banyak dijadikan inspirasi.

Hal-hal semacam itu enggak berlaku dalam kemasan punk sekarang. Sejak dipopulerkan kembali oleh Green Day, ada semacam perubahan esensi dalam musik punk. Liriknya enggak lagi bicara tentang runyamnya hubungan negara dengan rakyat. Atau masyarakat dengan individu yang hidup di dalamnya. Yang lebih jadi titik berat adalah hubungan antar-individu. Ya antar-peer- group, pacar, atau anggota keluarga. Satu topik yang umum dibicarakan dalam musik-musik mainstream (baca: pop). Enggak heran kalau belakangan, secara musikal, punk menjadi begitu ramah. Menelusup ke kuping segala lapisan masyarakat. Segala usia, kelas, dan juga jenis kelamin.

Dalam perkembangannya sekarang, pengusungnya makin jauh dari image punk zaman dulu yang cenderung eksklusif, radikal, kadang antisosial. Sebaliknya, band-band punk pasca-Green Day rata-rata punya tampang dan gaya sangat "menjual" layaknya boyband gitulah. Tetap punya kesan edgy, liar, atau nakal. Namun, sama sekali enggak sampai bikin para ortu jantungan. Setidaknya, tingkah laku mereka masih bisa ditolerir sama kalangan yang lebih tua. Asal tahu saja, selama konsernya di Jakarta, ada personel Simple Plan yang klabing sampai larut malam. Tapi, sebagian besar memilih untuk istirahat di hotel. Enggak ada yang bikin onar. Kata-kata kasar pun dijaga enggak sampai terdengar di antara para fans.)

Enggak maksa

Segambreng fakta di atas menimbulkan sebuah anggapan kalau melodic punk tuh lebih pas buat cewek.

"Anggapan kayak gitu mungkin keluar dari mulut mereka yang enggak suka melodic punk. Enggak apa-apa juga kalau mereka ngomong begitu. Tapi kalau gue pribadi, walaupun gue enggak suka jenis musik tertentu atau band apalah, gue tetap enggak akan membencinya. Kami enggak maksa kok!" tanggap Pierre, vokalis Simple Plan.

"Setiap musik pasti berkembang. Termasuk juga punk. Cuma gimana berkembangnya dan sampai mana berkembangnya, itu tergantung yang merasakan. Setiap orang kan punya rasa yang berbeda. Itu bisa dipersepsikan sebagai suatu kemajuan atau kemunduran, tergantung siapa yang mendengarnya!" lanjut cowok asal Montreal, Kanada, ini.

Yap, apa yang dibilang Pierre enggak salah. Kita memang enggak bisa menebak ke mana angin berembus. Kita pun enggak bisa menahan jalannya perubahan.

Buat band-band kayak Simple Plan, anggapan miring itu sepertinya enggak penting. Mau fans-nya cewek semua, dan dianggap "punk cewek" sekalipun, enggak jadi masalah. Toh malam itu konser mereka sukses membukukan sold out. Mereka pun sukses menjual sekitar 110.000 kopi album terbaru Still Not Getting Any, hanya di Indonesia. Sebuah prestasi yang sangat lumayan buat sebuah album nagri.

That was then and this is now. Boleh saja ada yang kesal, atau enggak terima. Berasa ideologinya "tercemar". Keyakinannya "terpolusi". Tapi kenyataan berkata lain. Saat ini punk sudah bukan hanya milik segelintir kalangan lagi. Sudah mulus terpoles zaman dan segudang kompromi industri. Lima ribu orang yang ngumpul di Tennis Indoor Senayan Sabtu malam lalu jadi salah satu bukti!

REPUBLIC OF MELODIC PUNK

Melodik Punk
Kasar tapi Romantis

Siapa bilang punk warna musiknya marah-marah melulu? Buktinya band-band melodic punk bisa kok beromantis ria, dengan kemasan musik tetap sangar, tapi enak didengar.

Hampir setiap tahun kita bakal bertemu dengan nama-nama baru di dunia musik. Sebagian dari mereka bertahan dan sebagian menghilang entah ke mana. Biasanya beberapa band yang bisa survive muncul barengan dengan menawarkan kesamaan bentuk musik pula. Lama- lama kesamaan itu mewabah, menjadi tren dan akhirnya bisa menularkan gaya mereka ke band-band lain yang belakangan muncul.

<>

Seorang teman pernah menulis kegusarannya tentang pola di atas dalam sebuah mailing list, "Zaman alternative rock, semua musik disebut alternative. Netral pun (yang musiknya lebih cenderung punk-Red) disebut alternative rock. Paling parah zaman hip-metal. Sampai-sampai Korn pun disebut hip-metal oleh sebuah majalah," begitu tulisnya.

Tulisan itu dibuat saat di mailling list sedang terjadi perdebatan soal berkembangnya kembali musik punk dalam kemasan yang lebih baru. Jangan-jangan sebuah band yang bukan punk karena sekarang lagi mewabah, eh dibilang punk juga.

Kalau sudah begini, banyak orang yang merasa lebih tahu. Mereka merasa "lebih punk" ketimbang yang lain sehingga cenderung membuat banyak batasan atau aturan, yang justru dalam konteks debat soal "punk atau bukan", malah berlawanan dengan semangat antikemapanan yang jadi "ajaran" awal punk.

Sudah enggak provokatif

Terserah, kalau memang masih mau ribut soal "punk atau bukan" sebuah band. Bisa jadi debat ini akan membuat si teman kita itu makin kesal lagi. Yang pasti, belakangan ini dunia musik memang tengah dibanjiri kemunculan band-band dengan warna musik punk yang lebih modern. Bukan hanya di luar negeri, tapi juga dari pentas musik dalam negeri.

Punk dengan kemasan "lebih trendi" ini sebenarnya juga tetap berakar dari punk. Sejalan dengan perubahan zaman, punk sebagai sebuah aliran musik pun mengalami banyak perubahan. Punk sekarang mungkin akan terdengar jauh berbeda dengan warna musik punk di awal kemunculannya. Saat The Ramones di Amrik atau Sex Pistols di Inggris menggila di akhir dekade 1970-an.

So, sah saja bila musik punk pun di tiap masanya, punya massa yang berbeda. Sesuai dengan perubahan corak musik yang muncul di dalam musik punk yang sedang in saat itu. Dengan kata lain, tiap generasi punya pahlawan punk-nya sendiri. Om kita bilang punk adalah Sex Pistols, The Ramones, atau The Clash. Kakak kita malah ngotot Bad Religion atau NOFX- lah band punk sejati. Tapi, kita juga boleh kok bilang kalau Blink 182, Rocket Rockers, atau Endank Soekamti yang lagi ngetop dengan lagu Bau Mulut-nya sebagai band-band punk juga.

Nah, band-band yang disebut belakangan dan lagu-lagunya sedang airplay di radio-radio plus MTV itulah, yang kemudian disebut sebagai band-band beraliran melodic punk. Sebuah interpretasi baru terhadap akar musik punk hingga menjadi tren sekarang ini.

Ada benang merah yang bisa ditarik dari band-band pengusung melodic punk tersebut. Dibandingkan dengan band-band dengan gaya punk lainnya, nada dan komposisi lagu-lagu dari style band-band melodic punk nyanyikan lebih tertata rapi. Musiknya juga lebih banyak akrab dan enak didengar. Kalau biasanya punk lebih terfokus untuk memprovokasi massa, atau selalu punya tujuan membangkitkan semangat dan emosi massanya, para pengusung melodic punk lebih concern kepada musik yang mereka mainkan.

Bandung (lagi)

Bandung kembali mendahului kota lain sebagai pionir dalam memproduksi grup melodic punk ini. Mungkin bisa disepakati bahwa kemunculan melodic punk diawali dengan nama Rocket Rockers. Sebuah grup melodic punk yang merilis album mereka di tahun 2002, tahun di mana belum ada band yang merilis album dan konsisten melantunkan melodic punk di Indonesia.

Tapi, kalau kita rajin main ke Bandung, embrio melodic punk ini sudah ada sejak awal 1990-an. Saat itu muncul sebuah band bernama Sendal Jepit, yang lagu-lagunya setipe dengan Bad Religion atau NOFX.

"Kami enggak bisa dibilang pionir. Karena sebelumnya sudah ada Sendal Jepit dan saya adalah fans mereka," ujar Ucay, vokalis Rocket Rockers.

Baginya hanya perbedaan nasib saja yang membuat Rocket Rockers lebih muncul ketimbang pendahulunya. Pada kenyataannya, banyak pula band seangkatan Rocket Rockers yang baru belakangan muncul albumnya, seperti The Bahamas atau Nudist Island.

Selain band-band tersebut, Ucay yang juga bekerja di sebuah majalah indie, melihat tanda-tanda lain. Yaitu, banyaknya band-band SMU saat itu yang memainkan lagu-lagu dari band-band melodic punk luar, macam Blink 182. Itu tidak hanya terjadi di Bandung. Anak-anak SMU di Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, dan berbagai kota kecil lainnya sering mengumandangkan lagu-lagu Blink di studio latihan mereka. Bahkan, dalam sebuah audisi di Kota Bogor untuk sebuah acara musik indie, 70 persen dari peserta audisi adalah band beraliran melodic punk.

Sampai ke Yogya

Melodic punk jadi fenomena di peta musik lokal. Mulai merambah ke arah timur pulau Jawa. Tepatnya di Yogyakarta, yang kemudian memunculkan nama macam Endank Soekamti. Sebuah band yang berisi tiga anak kelahiran tahun 1980-an dan menyebut musik mereka secara becandaan sebagai "melodic soekamti".

Dari awal terbentuknya di tahun 2000, para personel band yang namanya diambil dari nama seorang cewek dan guru favorit mereka ini sudah terkontaminasi lagu-lagunya Blink 182. Tepatnya saat mereka ber-jam session (saat itu band belum terbentuk) di sebuah acara tahun baru.

Di atas panggung mereka sepakat untuk membawakan lagu-lagunya Blink 182. Maka, akhirnya seusai manggung, mereka pun memutuskan untuk membentuk sebuah band.

"Sebenarnya di Yogya banyak banget band punk sejenis. Kita bisa menemukan mereka di sekitaran Mirota Kampus (dekat UGM-Red)," ujar Erick, vokalis sekaligus basis di grup itu.

"Kami sendiri sebenarnya menyanyikan lagu cinta, lho. Tapi, enggak ada tuh kata-kata puitis nan manis. Apa adanya saja, malah cenderung kasar. Musiknya pun kasar, sesuai dengan jiwa kami yang kasar," terang Erick sambil tertawa.

Penjelasan Erick tadi merupakan definisi dari apa yang mereka sebut sebagai "melodic soekamti". Tapi, para personel band ini malah enggak pernah mengharamkan kata cinta di lirik-lirik mereka.

"Lha, gimana lagi? Itu kata-kata yang kami pakai untuk merayu cewek-cewek. Dan enggak ada penggantinya yang sempurna," kilah sang vokalis lagi.

Dari sekadar ingin menunjukkan bahwa orang kasar seperti mereka bisa beromantis ria juga, mereka pun menemukan konsep bermusik yang mereka sukai. Sama seperti Ucay dan Rocket Rockers-nya, Erick dan kawan-kawan memilih warna musik yang disebut orang sebagai melodic punk. Malah belakangan di Yogya sudah muncul komunitas penggemar warna musik ini, dengan menyebut komunitasnya sebagai "Jogja melodic".

Jakarta pun akhirnya mengeluarkan jagoan mereka, The Superglad. Empat cowok yang punya ritual "Jumat agung" (maksudnya latihan setiap Jumat di studio musik mereka sampai pagi) ini punya karakter musik yang setipe dengan Endank Soekamti.

Pada sebuah kesempatan, Lukman sang vokalis pernah bertutur, "Kali ini, gue memang pengin beda sama band gue terdahulu (Waiting Room- Red). Gue pengin bikin nada-nada yang memang mudah diterima."

Itulah yang membuat konsep bermusik The Superglad berbeda, walaupun semua personelnya juga eks-personel Waiting Room.

Lebih terbuka

Melodic punk ini sangat terbuka dalam perkembangannya, tidak mengharamkan masuknya unsur-unsur baru dalam bermusik. Sebagai contoh, kita bisa dengar dan rasakan perbedaan di album Blink 182 terbaru (titel: Blink 182).

"Kalau sampai album baru Blink 182 itu sama seperti album yang dulu, gue bakal kecewa banget," komentar Ucay sebelum membeli album terbaru Blink 182 tersebut.

"Tapi, ternyata mereka melakukan apa yang saya inginkan," sambung Ucay sambil tertawa lega.

Ucay bisa berkata seperti itu karena dia memang sedang berpikir keras untuk album kedua Rocket Rockers. Berusaha mencari hal-hal baru untuk lagu-lagunya agar tidak stuck dengan pola lama. Masalah diakui sebagai punk atau tidak, terserah saja. Begitulah melodic punk, terbuka menerima unsur baru.

Dengan mewabahnya melodic punk secara bersamaan di hampir banyak negara di seluruh dunia, membuat tren ini semakin sulit ditahan untuk membesar. Band-band baru "pendukung" gaya yang disepakati dimulai Blink 182 ini semakin banyak saja.

Seperti The Ataris, band yang namanya cukup besar di Amrik, tapi baru masuk ke pasar Indonesia belakangan ini. The Ataris memang sempat terjegal policy label karena dianggap enggak bakal laku di pasar Indonesia. Tapi, sekarang label rekamannya "latah" merilis album band tersebut, karena band-band sealiran yang lebih dulu dirilis di Indonesia, ternyata laris manis.

Kali ini mungkin derita teman yang curhat di e-mail pada awal tulisan tadi makin menjadi. Karena dengan semakin ngetrennya melodic punk, perdebatan ala rock alternatif atau hip-metal bisa jadi akan muncul kembali. Misalnya saja yang sekarang mulai muncul adalah: apakah melodic pantas menjadi bagian dari keluarga besar punk?

Semoga saja tidak terjadi adu debat berkepanjangan soal "sah atau tidak"-nya. Yang penting adalah semua bisa survive. Kita lihat saja nanti, apakah di tahun-tahun mendatang band-band tersebut akan tetap survive atau menghilang seiring dengan kemunculan tren musik yang baru.

Senin, 27 April 2009

Sejarah Kelahiran Punk

Tak ada yang tahu pasti kapan dan di mana munculnya budaya punk pertama kali. Tapi ada sebuah catatan penting ketika sebuah grup band dari Inggris yang dalam tiap pertunjukannya selalu dihadiri anak-anak muda dengan dandanan berbeda dari yang lain. Nama band itu adalah Sex Pistols dan hit mereka yang terkenal adalah “Anarchy in U.K.” Wabah ini secara cepat menyebar ke Eropa.

Punk
muncul sebagai bentuk reaksi masyarakat yang kondisi perekonomiannya lemah dan pengangguran di pinggiran kota-kota Inggris, terutama kelompok anak muda, terhadap kondisi keterpurukan ekonomi sekitar tahun 1976-1977. Kelompok remaja dan kaum muda ini merasa bahwa sistem monarkilah yang menindas mereka. Dari sini muncul sikap resistensi terhadap sistem monarki. Kemarahan-kemarahan ini diwujudkan dalam bentuk musik yang berisi lirik-lirik perlawanan dan protes sosial politik serta cara berpakaian yang tidak lazim. Konser-konser musik digelar sebagai media untuk mengampanyekan ide-ide mereka.

Dari Rock n’ roll ke Punk
Punk sebetulnya memiliki dasar sikap yang sama dengan musik rock n’ roll, aliran musik yang lahir pada tahun 1955. Dulu, rock n’ roll itu menjadi musik milik generasi muda yang ingin memberontak terhadap kemapanan, sehingga dijauhi dan tidak disukai para orang tua. Tapi saat rock mulai kehilangan gereget dan dianggap monoton, mulailah ada kasak-kusuk untuk menciptakan jenis musik baru yang ekstrem sebagai reaksi melawan kejenuhan tadi. Dari keresahan itulah aliran punk lahir.

Tidak seperti aliran musik lainnya, punk lebih mengutamakan pelampiasan energi dan curhat ketimbang aspek teknis bermain musik. Para pencinta punk berprinsip bahwa tidak perlu jago bermain musik, yang penting penampilan oke dan yang namanya unek-unek harus bisa dikeluarkan. Dan memang, buktinya, almarhum Sid Vicious dari Sex Pistols tidak jago bermain bass. Meski demikian, orang-orang tidak memandangnya dengan remeh dia. Malah justru Sid banyak digandrungi para pencinta punk.


Pada tahun 1964, terjadi serbuan besar-besaran grup asal Inggris ke Amerika. Dan yang menjadi “biang keladinya” adalah The Beatles. Melihat trend baru itu, remaja Amerika pun sadar bahwa sebuah grup sanggup mengerjakan semuanya sendiri. Maka di berbagai pelosok Amerika, anak-anak sekolah pun mulai membentuk band dan latihan di garasi rumah mereka sendiri. Karena mereka baru belajar, musiknya pun tidak yang susah-susah. Mereka cenderung belajar dari grup-grup yang alirannya simple tapi nge-rock, macam Rolling Stones, The Whom atau Yardbirs, yang musiknya lebih menitikberatkan pada riff dan power, bukan struktur lagu yang njelimet.


Maka ketika mereka pada gilirannya mulai menulis lagu sendiri, musik mereka mempunyai ciri khas sederhana tapi “kencang” atau “ber-power”, biasanya dengan satu riff gitar yang di ulang-ulang. Tapi meski bentuknya masih “primitif”, musik yang mereka ciptakan mampu menggugah semangat pendengar. Sesuai dengan tempat kelahirannya, orang memberi julukan untuk warna musik ini: Garage Rock. Grup-grup yang lahir contohnya The Standells, The Seeds, The Music Machine, The Leaves, dan lain-lain. Dan dari sini lahirlah sound yang selanjutnya berkembang jadi punk rock.


Dari Iggy hingga Ramones
Punk selanjutnya berkembang sebagai buah kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Musisi punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu punk menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat.

Akibatnya punk dicap sebagai musik rock n’ roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat kesempatan untuk tampil di acara televisi. Perusahaan-perusahaan rekaman pun enggan mengorbitkan mereka.


Memasuki dekade 70-an, punk mulai menemukan bentuknya seperti yang kita kenal sekarang. Ciri pemberontakannya makin kentara, dan segala rupa aksi panggung yang ugal-ugalan pun mulai muncul. Dari generasi pelopor punk ini ada dua nama yang boleh disebut paling menonjol yaitu MC 5 dan Iggy and The Stooges.


Iggy adalah salah satu dari segelintir pentolan punk yang kiprahnya masih berlanjut sampai dasawarsa 90-an. Dan seiring dengan lahirnya generasi baru punk rock, namanya pun makin diakui sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam musik rock pada umumnya, dan punk pada khususnya.


Tahun 1975 lahirlah beberapa grup musik baru seperti Blondie yang ngepop, Talkin Heads yang avant garde, The Voidoids yang berkutat dengan gitar, dan The Dead Boys yang nyeleneh. Dan ada The Ramones.
Ramones punya citra seperti tokoh kartun. Empat anak jalanan asal Queens yang tampil gahar dengan jaket kulit dan jeans belel, seperti geng. Gerombolan ini memancang mitos bahwa mereka satu keluarga. Pada tanggal 4 Juli 1976,

Ramones mengadakan konser perdananya di Inggris. Entah itu tanggal keramat atau apa, konser mereka meninggalkan bekas yang dalam diri kaum muda Inggris yang menyaksikannya. Konser itu disaksikan oleh para pentolan grup yang belakangan memotori kebangkitan punk di Inggris, yaitu Sex Pistols, The Damned, dan The Clash.


Dari Sex Pistols hingga Green Day
Sex Pistols dan The Clash memasukkan aspek baru dalam perkembangan punk, yaitu protes sosial dan politik. Kedua grup ini menjadi penyambung lidah kaum muda Inggris yang frustrasi. Mulailah mereka menyuarakan protes terhadap segala ketidakadilan yang mereka lihat sehari-hari. Cuma saja pendekatan mereka berbeda, sesuai dengan latar belakang kehidupan masing-masing.

Di tahun 1980-an, di saat era punk di Inggris datang dan pergi, di berbagai penjuru dunia mulai muncul berbagai macam band beraliran punk dan belakangan menjadi legenda setempat. Di Irlandia, misalnya, ada grup The Understones. Di Australia ada The Saints. Dan di Selandia Baru ada The Clean.


Di Amerika gelombang terbaru pemusik punk AS bukan berasal dari New York, melainkan dari California. Generasi ini mendapat pengaruh yang sama besar dari The Ramones dan Sex Pistols. Tapi agak lain dengan kedua mentornya itu, mereka sangat serius menghayati prinsip-prinsip dasar punk. Bagi mereka punk bukan sekadar aliran musik, melainkan juga identitas, gaya hidup, bahkan juga gaya hidup bahkan prinsip.


Di selatan LA, tepatnya di Hermosa Beach, sebuah kelompok punk metal baru bernama Black Flag bela-belain menyewa gereja sebagai tempat latihan mereka. Tempat ini selanjutnya menjadi pusat kegiatan pencinta punk setempat. Grup-grup yang lahir di sana The Circle Jerk, Social Distortion, dan Suicidal Tendencies, dan lain-lain. Mereka lebih berhaluan keras. Penampilannya lebih brutal dan liriknya lebih radikal.


Sementara di San Francisco aliran punk lebih berpolitik. Di sana muncul nama-nama macam The Avengers, The Dils, dan yang paling dominan The Dead Kennedys. Grup yang terakhir disebut tadi melancarkan protes keras terhadap berbagai hal, mulai dari kebijaksanaan pemerintah sampai fasisme. Musik mereka berada di perbatasan antara punk yang melodius dan hardcore murni.


New York juga melahirkan grup-grup yang belakangan memperkaya khazanah musiknya dengan unsur lain, seperti Beasty Boys dan Sonic Youth. Dan ada juga The Misfits, yang mengungsi dari New Jersey.


Pada akhir tahun 1980-an benih kebangkitan generasi kedua mulai ditanam di LA. Dulu, awal dasawarsa ini, di San Fernando pernah berdiri sebuah grup band bernama Bad Religion. Bad Religion memiliki personelnya yang rata-rata sangat intelek. Saking inteleknya, lagu mereka sering memakai kata-kata yang membuat orang Amerika harus membuka kamus. Bad Religion merupakan band yang memelopori berdirinya generasi baru grup-grup punk California. Sebut saja macam Dag Nasty, Pennywise, NOFX, dan belakangan tentu saja Rancid, Offspring, serta Green Day.


Punk dan Gaya Hidup
Punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni avant-garde, yaitu dandanan nyeleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan para performer berkualitas rendah, dan mereorganisasi (atau mendisorganisasi) secara drastis kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan harus disertai dengan hebohnya pemikiran.

Banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.


Punk
lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, antikemapanan, antisosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker.

Punk
juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan DIY atau do it yourself. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.

Punk dan Anarkisme
Kegagalan Reaganomic dan kekalahan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam di tahun 1980-an turut memanaskan suhu dunia punk pada saat itu. Band-band punk gelombang kedua (1980-1984), seperti Crass, Conflict, dan Discharge dari Inggris, The Ex dan BGK dari Belanda, MDC dan Dead Kennedys dari Amerika telah mengubah kaum punk menjadi pemendam jiwa pemberontak (rebellious thinkers) daripada sekadar pemuja rock n’ roll. Ideologi anarkisme yang pernah diusung oleh band-band punk gelombang pertama (1972-1978), antara lain Sex Pistols dan The Clash, dipandang sebagai satu-satunya pilihan bagi mereka yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap otoritas negara, masyarakat, maupun industri musik.

Kaum punk memaknai anarkisme tidak hanya sebatas pengertian politik semata. Dalam keseharian hidup, anarkisme berarti tanpa aturan pengekang, baik dari masyarakat maupun perusahaan rekaman, karena mereka bisa menciptakan sendiri aturan hidup dan perusahaan rekaman sesuai keinginan mereka.


Keterlibatan kaum punk dalam ideologi anarkisme ini akhirnya memberikan warna baru dalam ideologi anarkisme itu sendiri, karena punk memiliki ke-khasan tersendiri dalam gerakannya. Gerakan punk yang mengusung anarkisme sebagai ideologi lazim disebut dengan gerakan Anarko-punk.
Dari tahun ke tahun, musik punk terus mengalami perubahan bentuk. Yang tidak berubah adalah semangat pemberontakannya.

Rambut Anak Punk

Pada tahun 1975 muncullah kaum punk. Penampilan kaum punk ini seringkali dikacaukan dengan kaum skinheads. Term punk sendiri adalah bahasa slang untuk menyebut penjahat atau perusak. Sama seperti para pendahulunya, kaum punk juga menyatakan dirinya lewat dandanan pakaian dan rambut yg berbeda. Orang-orang punk menyatakan dirinya sebagai golongan yg anti fashion, dengan semangat dan etos kerja “semuanya dikerjakan sendiri” (do-it-yourself) yg tinggi . Ciri khas dari punk adalah celana jins sobek-sobek, peniti cantel (safety pins) yg dicantelkan atau dikenakan di telinga, pipi, asesories lain seperti swastika, salib, kalung anjing, dan model rambut spike-top dan mohican.Model rambut spike-top atau model rambut yang dibentuk menyerupai paku-paku berduri adalah model rambut mohican atau biasa disebut dengan mohawk yaitu model rambut yg menggabungkan gaya spike-top dengan cukuran di bagian belakang dan samping untuk menghasilkan efek bulu-bulu yg tinggi atau sekumpulan kerucut. Kadang-kadang mereka mengecat rambutnya dengan warna2 cerah seperti hijau menyala, pink, ungu, dan oranye….

Cerita Anak PUNK

Anak-anak "Punk" itu Juga Puasa

Mengenakan celana panjang ketat, kaus hitam, dan sepatu kanvas butut, Dennis berdiri seorang diri di pelataran Mega Mall, Batam.

Rambutnya yang biasa ia cat warna-warni, kini hanya berwarna kemerahan, walau masih terlihat jelas ciri sebagai anak "punk".

Biasanya, setiap sore, Dennis dan komunitas punk lain berkumpul di pos masing-masing. Kebanyakan mereka hidup dari hasil mengamen.

Tetapi tidak petang itu. Ia sendirian di "pos" yang biasa menjadi tempat berkumpul kelompok punk lain.

Seiring bulan puasa menjelang, kawasan Batam Center yang biasanya diwarnai tingkah-polah anak-anak punk, mulai ditinggalkan oleh kawan-kawan Dennis. Satu per satu mereka pergi, meninggalkan komunitas untuk kembali hidup bersama keluarga saat Ramadhan tiba.

"Lebih dari setengah anak punk pada pulang (ke rumah keluarga)," kata Dennis, anak punk komunitas Sei Panas.

Di Batam, terdapat sedikitnya lima komunitas punk, Batam Centre, Panbil, Sei Panas, Batu Aji, dan Nagoya.

Pada hari biasa, mereka tinggal di ruko-ruko kosong dan pinggir jalan. Namun, pada Ramadhan, rumah toko sepi, komunitas punk meninggalkan "rumah".

Anak-anak muda dengan rambut warna-warni dengan tatanan ditarik ke atas ala "spike", kini jarang terlihat di jalanan Batam.

Anak punk biasanya mendeskripsikan diri sebagai manusia yang bebas berekspresi. Mereka hidup di jalan beramai-ramai dalam sebuah kelompok, tanpa aturan yang membelenggu, kecuali solidaritas yang tinggi.

Makan, tidur, senang, sedih dirasakan bersama-sama. "Makan ora makan asal ngumpul," begitu motto mereka.

Namun demikian ketika bulan puasa tiba, mereka saling berpencar, kembali ke keluarga batih masing-masing.


Kangen masakan bunda

Magnet terkuat yang menarik anak punk pulang ke keluarga kala bulan suci adalah masakan sang bunda.

Mimi (17), gadis asal Tanjungbalai, Karimun, memilih pulang ke pulau seberang untuk mendapatkan ketenangan dan kemenangan dalam Ramadhan.

"Kasihan ibu kalau saya menghabiskan bulan puasa di jalan. Lagi pula, saya rindu masakan ibu," katanya.

Gadis punk lain, Kaka (18) mengaku kangen menyantap gulai ikan buatan ibu.

"Makanya aku mau pulang. Buka puasa makan gulai ikan buatan ibu,... mmm nikmat," kata gadis berambut sebahu itu tersenyum.

Gadis yang siang itu mengenakan celana pendek dan kemeja kotak-kotak mengatakan sedang mengumpulkan uang untuk pulang ke rumah orang tua di Tanjung Uma, sekitar 15 km dari Batam Centre.

"Aku baru satu hari di jalan, kemarin-kemarin pulang, karena sedang halangan, tidak puasa, jadi ke jalan lagi," kata anak ketiga dari lima bersaudara itu.


Setengah hari

Tapi, tidak semua anak punk Muslim berpuasa penuh sesuai syariat Islam.

Bento, lelaki asal Medan berusia 28 tahun, berpuasa setengah hari.

"Awak puasa setengah hari saja, habis tidak kuat," kata pria berambut ikal melebihi bahu.

Ia mengatakan setiap pukul 12.00 WIB dia minum dan makan, menghilangkan dahaga dan lapar yang mendera karena sibuk memarkirkan motor di pusat perbelanjaan Barata, Batam Centre.

"Awak paling tidak kuat kalau haus, habis, Batam ini panas betul," katanya.

Sekitar pukul 13.00 WIB, ia kembali berpuasa, menahan haus dan lapar, juga nafsu dunia lain.

Bagi Bento, agama adalah urusan pribadi. Tidak seorang pun manusia yang berhak mengutak-utik ibadah seseorang.

Begitu juga dengan Imunk, yang sejak Ramadan hari pertama tidak pernah puasa.

"Mungkin saya harus pulang (ke keluarga-red) dulu, biar puasa," katanya.

Meski tidak puasa, ia mengaku menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah.

"Saya tidak mabuk," katanya, menyebutkan toleransi yang dia lakukan kepada muslim lain.

Ia mengatakan, dirinya selama bulan puasa tidak sering minum alkohol.

"Minum sih, tapi cuma basa-basi," katanya.

Minum basa-basi itu ia artikan meminum dalam kuantitas kecil sehingga tidak menyebabkan mabuk.

Minggu, 26 April 2009

Bedanya Anak EMO dan SKIN HEAD_PUNK




Pada dasarnya, segala sesuatu di dunia ini pasti akan mengalami perubahan. Dan ini berlaku diberbagai aspek kehidupan. Hal ini wajar terjadi jika dihubungkan dengan manusia sebagai makhluk Tuhan yang diciptakan memiliki akal dan pikiran yang dinamis. Skinhead, Punk, dan kaum-kaum subkultur sejenis lainnya, pasti tidak akan terelakkan dari hal yang berhubungan dengan evolusi. Singkatnya, Emo adalah sebuah bentuk evolusi dari kaum skinhead-punk.

Emotion Hardcore biasanya disebut (istilah ngetrend) Emo, adalah sebuah gaya hidup, fashion dan budaya yang baru saat sekarang ini mulai nge-boom di seluruh masyarakat dunia termasuk Indonesia. Emotion berasal dari bahasa Inggris, berarti emosi atau perasaan seseorang yang ingin diekspresikan. Sedangkan Hardcore adalah sejenis aliran musik yang memiliki tipe raungan gitar elektrik clean dan hentakkan drum yang dimainkan keras.

Dilihat dari sejarah munculnya, Emo adalah cabang atau yang lebih tepatnya adalah bentuk perkembangan dan evolusi dari Skinhead dan Punk. Emo muncul pertama kali sekitar pertengahan tahun 1980 di Washington, dan pertama kali diperkenalkan oleh band beraliran punk-melodic, DC Scene. Seperti artinya (emotion), lagu yang diusung lebih banyak mengandung unsur-unsur emosi dan perasaan seperti cinta, kasih sayang, rasa marah, kesal, dan segala sesuatu yang berhubungan erat dengan asmara dan perasaan seseorang.

Sekitar tahun 1990, emo semakin berkembang. Dibuktikan dengan banyak bermunculan band-band baru seperti Rites of Spring, Embrace, One Last Wish, Beefeater, Gray Matter, Fire Party, Slightly later, dan Moss Icon. Pada tahun inilah emo mencapai puncak-puncaknya. Sering dengan waktu banyak pula terjadi pencabangan dalam aliran emo sendiri.

Menurut Billy Joe Amstrong, gitaris band beraliran punk melodic Green Day (secara tidak langsung ia sendiri juga yang mempelopori revitalisasi emo kembali muncul di publik), emo adalah sebuah gabungan antara punk dan gothic. Sebuah karya besar jika kedua mainstream (sikap independen yang dilakukan kelompok-kelompok anak muda tertentu, berhubungan dengan kultur pop kaum muda) ini dipadukan. Dan bukan hal yang mustahil jika keduanya digabungkan akan tercipta sesuatu yang fantastis. Kesamaan keduanya mampu berkolaborasi dan saling melengkapi. Dan sebagai cara untuk membedakan bahwa ini adalah sesuatu yang baru, perlu suatu adanya upaya penonjolan jati diri. Dengan atribut gabungan keduanyalah sebuah aliran dan lifestyle baru ini mampu diterima. Sebuah ideologi dapat diterima jika memiliki sesuatu sebagai identitasnya dan mampu menunjukkannya pada umum.

Namun, kaum skinhead-punk yang masih tetap memegang idiologi “asli” skinhead, berpendapat bahwa emo adalah bentuk kehancuran Skinhead-Punk. Dikatakan kehancuran karena idiologi anti kemapanan yang selalu diikrarkan oleh kaum Skinhead, sudah tidak bermakna lagi, kalah dan ditelan oleh bentuk kapitalisme dan mapan (Bowo(22) , mahasiswa Fak.Filsafat UGM, seorang Skinhead dan punker). Ditambahkan pula oleh rekannya, Empu (Christian), ia mengungkapkan kekecewaanya terhadap Emo (kaum Skinhead-Punk yang sudah dipengaruhi kapitalisme modern), Emo tidak pantas dianggap sebagai punk karena tidak mencirikan sebagai sesuatu yang anti dengan kemapanan. Ditegaskan lagi dengan segala jenis atribut yang mereka (Emo) yang lebih menonjolkan kemewahan, merk. Sudah jelas mereka bukan Skinhead-punk yang sebenarnya. Emo hanyalah sebuah bentuk kapitalisme musik, ideologi yang dikemas dan menyusup rapi ke dalam ideologi skinhead-punk yang selama ini sudah berakar kuat.

Lain halnya yang dikatakan Putri, mahasiswi Fak. Ilmu Budaya UGM jurusan Antropologi. Menurutnya emo merupakan suatu bentuk gaya hidup baru yang sangat cocok khususnya generasi muda. Ekspressionis, enerjik, modis, begitulah gambaran emo, tambahnya.

Atribut Emo

“Wah, dia rambutnya nggak Spike/Mohawk, nggak botak lagi, terus nggak pake’ spike di tangan atau di ikat pinggang, dilehernya nggak ada juga kalung rantai + gemboknya (dog collars), dan nggak2 yang laen lagi. Keliatannya lebih kalem, rapi. Kesimpulannya…wah!, dia ini bukan anak skinhead! Tapi….., punk? ……bukan, gothic juga bukan,.. lantas apa?” Sepenggal cerita yang ada di masyarakat.

Ironis memang hal itu berkembang di masyarakat, tetapi itulah fakta yang terjadi. Budaya atribut telah berkembang di masyarakat. Atribut adalah suatu penjelas seseorang berada di sebuah identitas diri tertentu yang secara fisik atau kasat mata merupakan pembeda/sama dengan lingkungan sekitarnya (itu sudah jelas) dan dengan atribut pula yang identik dengan kelas tertentu di masyarakat berkembang pemikiran tentang penyeragaman. Penyeragaman berarti pembakuan. Jika melihat atribut emo itu harus Emo-style, Peircing, Gaspers, Eye-shadow, pin, emblem, dsb, maka berarti hal itu telah dianggap baku dan adanya telah seperti itu.

Sama seperti kaum skinhead-punk yang sudah memiliki identitas dan atribut masing-masing Emo pun memiliki identitas dan atribut sebagai pembeda dari kaum-kaum yang lainnya. Secara sekilas memang memiliki kemiripan satu sama lain, hal itu wajar saja terjadi karena atribut yang digunakan oleh para penganut emo adalah bentuk perkembangan dari fashion kaum skinhead-punk. Terjadi perubahan dikarenakan dalam perkembangannya mendapat pengaruh-pengaruh budaya baru seiring berjalannya waktu, zaman dan kemajuan dalam bidang fashion pula.

Makna Atribut

Semua hasil material antara punk dan skinhead itu berdasarkan atas pemikiran-pemikiran yang telah didorong oleh nilai-nilai perlawanan atas hal-hal yang membosankan dan menindas (suatu rangkaian yang tidak dipisahkan). Skinhead memang terlahir dari pemikiran dengan nilai-nilai perlawanan atas suatu pemikiran mainstream, membosankan dan menindas (seperti kapitalisasi, penghisapan, pembodohan, dsb). Sedangkan punk lahir akibat pengaruh-pengaruh yang baru bukan hanya kapitalisme, gaya, tetapi juga dalam karya musik. Namun apa yang terjadi pada Emo? Emo tercipta karena kedua subkultur di atas (punk dan skinhead) telah dimasuki oleh paham-paham kapitalisme, fashionable, dan keinginan untuk bergaya. Sebuah kondisi yang sangat berlawanan pengan paham Skinhead-Punk yang notabennya sebagai nenek moyang Emo.

Pada dasarnya sama, Emo menggunakan topi, celana jeans, kalung, gelang, gasper, mempunyai tindik, bertato, memakai peircing sebagai atributnya. Tetapi sudah tidak memiliki makna ideologi. Semua atribut yang dipasang dan dipergunakan hanya sebatas pelengkap. Tidak seperti Skinhead-Punk, menurut mereka kalung rantai, gelang rantai, anting peniti, Peircing memiliki makna sebagai bentuk perlawanan terhadap sesuatu (kapitalisme, pemerintahan). Tetapi sedangkan Emo tidak memiliki makna apapun, yang terjadi hanya pemaknaan bahwa Emo(seluruh atributnya) adalah bentuk ekspresi dari anak-anak muda pada umumnya (keren, modis, gaul, bermerk) yang juga jelas bertentangan dengan Skinhead-Punk. Sejauh ini memang belum ditemukan dan didapat mengenai makna yang signifikan dalam setiap atribut yang mereka (kaum Emo) kenakan.

Perbandingan Atribut dan Aksesoris antrara Skinhead dan Emo

No.
Atribut
Skinhead
Emo

1.
Tindik
Anting ( biasanya dipakai hanya pada telinga saja)
Anting, Peircing ( digunakan pada teling, bandul telinga, hidung, pelipis, alis, lidah bibir. Malah ada yang digunakan disemua bagian itu)

2.
Sepatu
Boot keras, Loafers, Steel toe cap.
Converse (sepatu kets produksi USA), Vans.

3.
Baju
Polo, kaos berkerah, kemeja berkerah, jaket kulit. Skinhead lebih berpenampilan rapi dan bersih.
Kaos Distro, Blazer, Kemeja.

4.
Celana
Levi’s, jeans gombrong, sta prest (ketat).
Jeans staprest, Hipster.

5.
Drugs dan Alkohol
Menolak (hanya sedikit yang menerima, menolak lebih mendominasi).
Merekok, Alkoholik, Drgus tidak dipakai sama sekali.

6.
Kendaraan
Motor tua, Skuter vespa, Moge (motor gede/motor besar).
Tidak memiliki Kendaraan yang spesifik.

7.
Rambut
Plontos, cepak
Rambut Emo.

8.
Perhiasan
Rantai anjing, gelang spike, emblem
Kalung, gelang, Jam tangan, Hand-Band, Cincin.

9.
Pewarna Rambut
Tidak memakai
Memakai (biasanya berwarna merah)

10.
Make-Up wajah
Tidak memakai
Memakai seperti eye-Shadow/eye-liner, Lip-gloss.

11.
Topi
Pork-pie, bolero
Topi Emo

12.
Tatoo
Tidak memakai
Memakai tetapi minimalis

KESIMPULAN

Atribut merupaan penanda dari suatu komunitas atau kebudayaan. Ini merupakan ciri khas yang menjadi suatu keharusan yang tidak tertulis dalam lingkup kehidupan. Penggunaan atribut pada kebudayaan atau komunitas tertentu menjadikannya suatu simbol yang menggambarkan identitas kehidupan mereka. Dari atribut pula sebuah pemaknaan dapat dilihat dan dideskripsikan.

Emo adalah sebuah bentuk merosotnya suatu makna ideologi dari suatu kaum subkultur (Skinhead-Punk) yang selama ini telah memiliki ideologi anti kemapanan sebagai bentuk perlawanan terhadap kemewahan, hukum-hukum yang selalu menindas kaum kecil. Emo sengaja diciptakan sebagai salah satu “senjata” untuk memerangi dan mengalahkan ideologi Skinhead-Punk Segala jenis atribut yang mereka (Emo) kenakan yang lebih menonjolkan kemewahan, merk. Sudah jelas mereka bukan Skinhead-punk yang sebenarnya. Emo hanyalah sebuah bentuk kapitalisme musik, dan ideologi pro-kemapanan yang dikemas dan menyusup rapi ke dalam ideologi skinhead-punk yang selama ini sudah berakar kuat dalam benak para pengikutnya.

Komunitas Punk

PUNK MY LIFE !!!!!

Anak Punk Ga Selalu Reseh..! Jangan mencap miring anak punk, kalo belon dekat. Mereka emang cuek, tapi juga tau diri. Kenapa mesti berpakaian lusuh? “Awas anak punk!” Peringatan kayak gitu masih sering terdengar begitu melihat segerombolan anak punk di jalan. Maklum, penampilan anak punk emang bikin “keder” banyak orang. Jaket lusuh yang dipenuhi emblem, sepatu boots Doc Mart, celana panjang ketat, spike (gelang berjeruji) di tangan, rambut tajamnya yang bergaya mohawk (mohak) bikin punkers terkesan garang. Bukan hanya penampilan yang membuat imej punk jadi “lain” dari komunitas remaja kebanyakan, tapi juga tingkah mereka. Bergerombol di jalan, kadang sampe pagi, dan kadang suka terlibat tawuran. Maka, kompletlah punk kena cap sebagai komunitas yang bermasalah. Padahal, apa sebenernya anak punk kayak gitu? Tukang bikin rusuh? “Salah banget kali, orang-orang ngelihat kita kayak sampah masyarakat. Mereka yang mikir begitu, sebenarnya nggak tau apa-apa tentang kita,” kata Oscar, salah satu anak punk Jakarta Timur (Sorry, musti pake’ nama samaran). Menurut Oscar, penampilan punk yang lusuh bukan berarti kelakuan mereka juga minus. Apalagi penampilan kayak gitu udah menjadi cirri khas punk. Mungkin kelihatan lusuh, dekil, kayak orang aneh, tapi kita nggak pernah ngelakuin tidak criminal kayak maling. “Kalo ada anak punk yang malak, dia nggak ngerti arti punk sebenarnya. Mungkin cuma dandanan luar doang yang punk, dalemnya nggak tau apa-apa,” tambah cowok berusia 16 tahun ini serius. Tapi nggak bisa dipungkiri, penampilan, penampilan punk yang sering kelihatan lusuh nggak terlepas dari sejarah kelahiran punk itu sendiri. Menurut Oscar, punk lahir di jalanan, dari orang-orang yang tertindas kayak gembel, buruh dan gelandangan yang benci sama kapitalis di Eropa. Mereka benci ama orang kaya yang serakah dan penindas orang miskin. “Mereka akhirnya terbuang, sampe terus bikin komunitas sendiri. Tapi, kalo lantas dianggap kriminal, ya salah. Punk malah punya jiwa sosial dan solidaritas yang tinggi, terutama buat kelompoknya. Mereka juga memihak rakyat kecil,” jelas Oscar panjang lebar. BANYAK ALIRAN Penampilan seperti itu, juga diikutin abis ama anak punk di Indonesia. Tapi, bukan karena semata karena penampilan yang bikin banyak remaja tertarik masuk kedalam komunitas punk, melainkan karena motto anak punk itu sendiri. Equality (persamaan hak) misalnya, termasuk yang bikin banyak remaja jatuh hati. “Tadinya aku juga nggak suka ama anak punk, tapi begitu aku coba gaul ama mereka, aku jadi tertarik. Mereka mementingkan kebersamaan dalam segala hal, prinsip itu yang nggak aku temuin di komunitas lain,” cerita Ricky (bukan nama sebenarnya) yang udah jadi anak punk sejak duduk di kelas I SMP. Ricky makin jatuh hati ketika ia merasa cocok ama musik khas anak punkyang underground. Udah gitu lewat jalur indie label, cowok yang duduk di kelas II SMP ini merasa bebas berkreasi .Nggak bakal kena pengaruh ama perusahaan rekaman yang cenderung komersil. Pokoknya ia merasa bebas. Tapi, diakui Ricky, begitu gabung ama komunitas punk, gaya hidupnya berubah berubah. Dandanan udah pasti. Selain itu, ia jarang di rumah. Biasanya nongkrong ama sesama anak punk. Kadang sampe pagi, terutama kalo hari libur. Pas nongkrong, biasanya mereka ngobrol dan berdiskusi tentang musik atau komunitas punk. Nggak jarang, mereka sering bertandang ke komunitas punk di tempat lain. “Itu jadi semacam ‘kegiatan’ wajib. Selain bisa tau info baru tentang punk, kita juga bisa nambah temen baru,” tukas Ricky Kegiatan lain, apalagi kalo bukan festival band underground yang biasanya digelar tiap Minggu. Gedung Olah Raga (GOR) biasanya paling sering dipakai buat acara mereka? Akibatnya, ada yang menganggap anak punk identik ama GOR. Di Jakarta ada di Bulungan, Youth Centre, dan Planet Senen. Termasuk GOR di Bekasi dan GOR Saparua di Bandung. Asal tau aja GOR dipilih bukan karena mereka nggak mampu menyewa tempat yang lebih mahal buat konser. “Kalo kita mau, kita bisa kok bikin acara di kafe. Persoalannya, cuma di GOR kita bisa bebas dan imejnya nggak komersil,” tambah Ricky. MEMILIH GEMBEL Maklum aja kalo mereka ogah main di kafe yang serba glamor. Karena, hampir sama dengan punk di nagri, punk di Indonesia juga antikomersil, antikapitalis, dan anti keglamoran. Meski begitu, bukan berarti anak punk miskin semua. Banyak kok anak punk yang berasal dari rumah gedongan Tapi kesehariannya, mereka tetap berpenampilan lusuh. “Banyak anak punk yang kelihatan di konser – konser itu, sebenernya anak orang kaya, lho! Rumahnya gedongan. Tapi, mereka melepas semua itu dengan pake kostum gembel yang tak terawat, supaya jadi punk. Mereka malah malu kalo kelihatan gaya,” cerocos Oscar. Bukti lain kalo anak punk cukup berduit, dengan seringnya bikin konser. Nah, segala biaya itu ditanggung ama mereka sendiri. Misalnya geng A bikin acara, semua anggotanya patungan. Mulai dari sewa gedung, bikin leaflet, sampe sewa alat segala. Udah gitu, yang nonton juga dikutip bayaran, biasanya sekitar 10 ribu perak. Ini kebersamaan juga, kita menghargai yang bikin acara, mereka juga ngelakuin yang sama. Jadi anak punk itu hobinya bukan gratisan!” tambah Ricky. Nah, kebersamaan seperti itulah yang bikin anak punk tetap kompak. Emang sih kadang ada yang suka “bandel”. Misalnya, ada yang suka bikin keributan dan membenci kelompok tertentu. Kalo udah gini, kamu nggak bisa mengartikan anak punk semuanya kayak gitu. Karena di dalam punk itu sendiri, banyak alirannya. Bukan cuma musiknya, tapi juga ciri khas lain. Misalnya punk street dan punk rock yang hobinya nongkrong di jalanan. POLITIK DAN GAYA Ada juga kelompok lain yang sodaraan ama punk, yaitu skinheads. Aliran yang “berkiblat” ama Nazi ini konon lebih brutal dan rasis (benci ama kelompok tertentu) disbanding punk lainnya. Di negara asalnya, kelompok yang biasanya disebut skinheads Nazi ini memang sangat berbahaya. Tapi di Indonesia, cenderung nggak rasis. Bahkan penampilannya lebih gaya ketimbang di nagri. Kelompok yang lahir dari kaum pekerja itu masih banyak yang antiras. Ada juga yang namanya skinheads politik. Kelompok ini menurut Ricky lebih banyak terlibat ama dunia politik di Indonesia, bahkan sering ikut aksi ama PRD. Maklum karena mereka punya prinsip yang sama di bidang politik. “Mereka ikut karena paham masa depannya sejalan dengan PRD,” tambah Ricky. Yang menarik, ada kelompok yang menamakan dirinya straight edge. Bukan seperti punk yang lainnya, komunitas ini punya sikap yang lumayan “bersih” disbanding punk lain. Misalnya, mereka antirokok, anti-seks bebas, dan vegetarian. “Tapi disini nggak banyak,” kata Ricky. Menurut Ricky, kalo nongkrong, nggak semua anak punk suka nge-drugs. “Tapi aku akuin, ada yang suka minum – minum. Tapi, kalo yang namanya junkies tinggalin deh! Anak punk udah nggak setuju ama yang namanya junkies,” tambah Oscar. Uniknya, meski mereka setia ama prinsip dan aturan dalam komunitas, hampir dipastikan anak punk nmggak punya tokoh yang patut dijadikan panutan. Boleh jadi karena kebersamaan. Jadi kalo pun dianggap idola biasanya mereka menyebut Hitler. Tapi kebanyakan lebih suka menyebut nama band kayak Sex Pistols dan The Bussiness. Itu pun mereka kagum karena aliran musiknya yang menurut mereka keren punya. “Namanya equality, jadi semuanya sama. Nggak pake pimpinan segala,” jelas Ricky. PUNK : Do It Yourself dan Anti Kemapanan Punk sebagai jenis musik, masuk ke tanah air pada tahun 1980-an, bersamaan dengan kegandrungan anak-anak muda pada grup band politis asal Inggris, Sex Pistol. Awal tahun 1990-an, beberapa anak muda di Bandung kemudian mencoba mengartikulasi budaya impor itu dengan berdandan punk: rambut berdiri (mohawk) yang dilengkapi berbagai asesoris khasnya. Agak unik ngobrol dengan komunitas ini. Mereka punya sikap tegas dan berani berbeda secara prinsip. “Menurut gue, punk itu mengembalikan kontrol atas diri loe sendiri. Do it Yourself dan anti kemapanan,” terang Ika, yang juga kerap disebut Peniti Pink, salah satu anggota komunitas punk di Jakarta. Dalam kacamata Ika, punk lebih kepada persoalan melawan, bukan memberontak. “Kami melawan ketidakadilan, melawan dari tekanan, bukan memberontak tapi melawan. Anti kemapanan dalam arti menolak segala sesuatu yang sudah jadi status quo,” tegas cewek yang dikontak via email itu. Sebagai seorang perempuan, Ika tidak merasakan adanya perbedaan perlakuaan antara punkers cewek dan cowok. “Dalam skala besar, keterwakilan punker cewek memang tidak sebesar yang cowok. Tapi sekarang sudah lumayan menonjol dan punya pengaruh juga,” tambah Ika. Menurut Ika yang kerap menulis soal punk dan perempuan, punk mampu melihat perempuan dengan lebih adil dan fair dibanding mainstream. Soal tudingan komunitas punk banyak mengumbar kata-kata provokatif, Ika menolaknya. “Tidak juga. Organ-organ politik dan agama di Indonesia, kayaknya malah lebih provokatif deh,” kilahnya. Tapi Ika tidak menolak jika punk juga menjadi bagian dari gaya hidup. “Punk juga bisa jadi fesyen, musik, atau apapun yang gue rasa punk bisa masuk ke dalamnya,” tandasnya Ika lagi. Tapi percaya atau tidak, Ika mengaku tidak berharap apa-apa dari scene punk di Indonesia. “Tidak ada yang gue harapkan,” tegasnya. Perkembangan scene punk --komunitas, gerakan, musik, fanzine, dan lainnya-- paling optimal adalah di Bandung, disusul Malang, Yogyakarta, Jabotabek, Semarang, Surabaya, dan Bali. Parameternya adalah kuantitas dan kualitas aktivitas: bermusik, pembuatan fanzine (publikasi internal), movement (gerakan), distro kolektif, hingga pembuatan situs. Meski demikian, secara keseluruhan, punk di Indonesia termasuk marak. Profane Existence, sebuah fanzine asal Amerika menulis negara dengan perkembangan punk yang menempati peringkat teratas di muka Bumi adalah Indonesia dan Bulgaria. Bahwa `Himsa`, band punk asal Amerika sampai dibuat berdecak kagum menyaksikan antusiasme konser punk di Bandung. Di Inggris dan Amerika --dua negara yang disebut sebagai asal wabah punk, konser punk hanya dihadiri tak lebih seratus orang. Sedangkan di sini, konser punk bisa dihadiri ribuan orang. Mereka kadang reaktif terhadap publikasi pers karena khawatir diekploitasi. Pers sebagai industri, mereka anggap merupakan salah satu mesin kapitalis. Mereka memilih publikasi kegiatan, konser, hingga diskusi ide-ide lewat fanzine. Punk not DEAD!!! Komunitas yang satu ini memang sangat berbeda sendiri dibandingkan dengan komunitas pada umumnya. Banyak orang yang menilai bahwa komunitas yang satu ini termasuk salah satu komuitas yang urakan, berandalan dan sebagainya. Namun jika dicermati lebih dalam banyak sekali yang menarik yang dapat Anda lihat di komunitas ini. Punk sendiri terbagi menjadi beberapa komunitas-komunitas yang memiliki ciri khas tersendiri, terkadang antara komunitas yang satu dengan komunitas yang lain juga sering terlibat masalah. Walaupun begitu mungkin beberapa komunitas Punk di bawah ini dapat mempengaruhi kehidupan Anda sehari-hari.


Punk Community
Anarcho Punk
Komunitas Punk yang satu ini memang termasuk salah satu komunitas yang sangat keras. Bisa dibilang mereka sangat menutup diri dengan orang-orang lainnya, kekerasan nampaknya memang sudah menjadi bagiandari kehidupan mereka. Tidak jarang mereka juga terlibat bentrokan dengan sesama komunitas Punk yang lainnya.
Anarcho Punk juga sangat idealis dengan ideologi yang mereka anut. Ideologi yang mereka anut diantaranya, Anti Authoritarianism dan Anti Capitalist.Crass, Conflict, Flux Of Pink Indians merupakan sebagian band yang berasal dari Anarcho Punk.

Crust Punk
Jika Anda berpikir bahwa Anarcho Punk merupakan komunitas Punk yang sangat brutal, maka Anda harus menyimak yang satu ini. Crust Punk sendiri sudah diklaim oleh para komunitas Punk yang lainnya sebagai komunitas Punk yang paling brutal. Para penganut dari faham ini biasa disebut dengan Crusties. Para Crusties tersebut sering melakukan berbagai macam pemberontakan dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Musik yang mereka mainkan merupakan penggabungan dari musik Anarcho Punk dengan Heavy Metal. Para Crusties tersebut merupakan orang-orang yang anti sosial, mereka hanya mau bersosialisasi dengan sesama Crusties saja.

Glam Punk

Para anggota dari komunitas ini merupakan para seniman. Apa yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari sering mereka tuangkan sendiri dalam berbagai macam karya seni. Mereka benar-benar sangat menjauhi perselisihan dengan sesama komunitas atau pun dengan orang-orang lainnya.

Hard Core Punk

Hard Core Punk mulai berkembang pada tahun 1980an di Amerika Serikat bagian utara. Musik dengan nuansa Punk Rock dengan beat-beat yang cepat menjadi musik wajib mereka. Jiwa pemberontakan juga sangat kental dalam kehidupan mereka sehari-hari, terkadang sesama anggota pun mereka sering bermasalah.

Nazi Punk
Dari sekian banyaknya komunitas Punk, mungkin Nazi Punk ini merupakan sebuah komunitas yang benar-benar masih murni. Faham Nazi benar-benar kental mengalir di jiwa para anggotanya. Nazi Punk ini sendiri mulai berkembang di Inggris pada tahun 1970an akhir dan dengan sangat cepat menyebar ke Amerika Serikat. Untuk musiknya sendiri, mereka menamakannya Rock Against Communism dan Hate Core.

The Oi The Oi atau Street Punk
ini biasanya terdiri dari para Hooligan yang sering membuat keonaran dimana-mana, terlebih lagi di setiap pertandingan sepak bola. Para anggotanya sendiri biasa disebut dengan nama Skinheads. Para Skinheads ini sendiri menganut prinsip kerja keras itu wajib, jadi walaupun sering membuat kerusuhan mereka juga masih memikirkan kelangsungan hidup mereka. Untuk urusan bermusik, para Skinheads ini lebih berani mengekspresikan musiknya tersebut dibandingakan dengan komunitas-komunitas Punk yang lainnya. Para Skinheads ini sendiri sering bermasalah dengan Anarcho Punk dan Crust Punk.

Queer Core

Komunitas Punk yang satu ini memang sangat aneh, anggotanya sendiri terdiri dari orang-orang “sakit”, yaitu para lesbian, homoseksual, biseksual dan para transexual. Walaupun terdiri dari orang-orang “sakit”, namun komunitas ini bisa menjadi bahaya jika ada yang berani mengganggu mereka. Dalam kehidupan, anggota dari komunitas ini jauh lebih tertutup dibandingkan dengan komunitas-komunitas Punk yang lainnya. Queer Core ini sendiri merupakan hasil perpecahan dari Hard Core Punk pada tahun 1985.

Riot Grrrl
Riot Grrrl ini mulai terbentuk pada tahun 1991, anggotanya ialah para wanita yang keluar dari Hard Core Punk. Anggota ini sendiri juga tidak mau bergaul selain dengan wanita. Biasanya para anggotanya sendiri berasal dari Seattle, Olympia dan Washington DC.

Scum Punk

Jika Anda tertarik dengan Punk, mungkin ini salah satu komunitas yang layak untuk diikuti. Scum Punk menamakan anggotanya dengan sebutan Straight Edge Scene. Mereka benar-benar mengutamakan kenyamanan, kebersihan, kebaikan moral dan kesehatan. Banyak anggota dari Scum Punk yang sama sekali tidak mengkonsumsi zat-zat yang dapat merusak tubuh mereka sendiri.

The Skate Punk
Skate Punk memang masih erat hubungannya dengan Hard Core Punk dalam bermusik. Komunitas ini berkembang pesat di daerah Venice Beach California. Para anggota komunitas ini biasanya sangat mencintai skate board dan surfing.

Ska Punk
Ska Punk merupakan sebuah penggabungan yang sangat menarik antara Punk dengan musik asal Jamaica yang biasa disebut reggae. Mereka juga memiliki jenis tarian tersendiri yang biasa mereka sebut dengan Skanking atau Pogo, tarian enerjik ini sangat sesuai dengan musik dari Ska Punk yang memilikibeat-beat yang sangat cepat.

Punk Fashion

Para Punkers biasanya memiliki cara berpakaian yang sangat menarik, bahkan tidak sedikit masyarakat yang bukan Punkers meniru dandanan mereka ini. Terkadang gaya para Punkers ini juga digabungkan dengan gaya berbusana saat ini yang akhirnya malah merusak citra dari para Punkers itu sendiri. Untuk pakaiannya sendiri, jaket kulit dan celana kulit menjadi salah satu andalan mereka, namun ada juga Punkers yang menggunakan celana jeans yang sangat ketat dan dipadukan dengan kaos-kaos yang bertuliskan nama-nama band mereka atau kritikan terhadap pemerintah. Untuk rambut biasanya gaya spike atau mohawk menjadi andalan mereka. Untuk gaya rambut ini banyak orangorang biasa yang mengikutinya karena memang sangat menarik, namun terkadang malah menimbulkan kesan tanggung. Body piercing, rantai dan gelang spike menjadi salah satu yang wajib mereka kenakan. Untuk sepatu, selain boots tinggi, para Punkers juga biasa menggunakan sneakers namun hanya sneakers dari Converse yang mereka kenakan. Gaya para punkers tersebut nampaknya semakin marak dikenakan akhir-akhir ini, jika begitu mungkin Anda setuju dengan ungkapan PUNK NOT DEAD.!!